interaksi obat

Apakah Itu Interaksi Obat?

Jumlah obat resep dalam tubuh kita harus cukup tinggi untuk membantu menyerang penyakit yang bersangkutan, tetapi cukup rendah agar menghindari munculnya terlalu banyak efek samping. Obat lain, baik non-resep atau narkoba, jamu, atau bahkan makanan kadang kala mengakibatkan perubahan besar pada jumlah suatu obat dalam aliran darah kita. Overdosis (dosis terlalu tinggi) dapat mengakibatkan efek samping yang parah. Dosis terlalu rendah dapat berarti obat tersebut tidak berhasil.

Bagaimana Tubuh Kita Mengelola Obat-obatan?

Tubuh kita mengenal obat sebagai ‘bahan asing.’ Jadi obat diuraikan oleh tubuh, biasanya sebagai air seni atau kotoran (air besar). Banyak obat dikeluarkan tanpa masalah oleh ginjal, dan keluar dari tubuh dalam air seni. Obat lain harus diuraiakan oleh hati kita. Bahan kimia (yang disebut enzim) di hati mengubah molekul obat. Hasil dari proses ini dikeluarkan juga dalam air seni atau air besar. Waktu kita memakai pil, obat jalan dari perut ke usus. Dari usus, obat diarahakan ke hati sebelum mengalir ke bagian tubuh yang lain. Jika obat mudah diuraiakan oleh hati, hanya sedikit obat sampai ke tubuh lain.

Bagaimana Obat-obatan Berinteraksi?

Ada obat yang memperlambat proses ginjal. Ini meningkatkan kadar bahan kimia yang biasanya dikeluarkan oleh ginjal dalam darah. Interaksi obat yang paling umum melibatkan hati. Beberapa obat dapat memperlambat atau mempercepat proses enzim hati. Ini dapat mengakibatkan perubahan besar pada kadar obat lain dalam aliran darah, jika obat tersebut diuraikan oleh enzim yang sama.

Mengapa Ada Masalah dengan Makanan?

Pil apa pun yang kita pakai melalui perut kita. Sebagaian besar obat diserat lebih cepat jika perutnya kosong. Untuk beberapa obat, ini masalah yang baik, tetapi ini juga dapat mengakibatkan lebih banyak efek samping. Beberapa obat harus dipakai dengan makanan agar mereka diuraikan lebih lambat atau untuk mengurangi efek samping. Obat lain harus dipakai dengan makanan berlemak karena obat tersebut melarut dalam lemak, dan jika begitu diserap lebih baik.

Pada prinsipnya interaksi obat dapat menyebabkan dua hal penting. Yang pertama, interaksi obat dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan khasiat obat, baik melalui penghambatan penyerapannya atau dengan mengganggu metabolisme atau distribusi obat tersebut di dalam tubuh. Yang kedua, interaksi obat dapat menyebabkan gangguan atau masalah kesehatan yang serius, karena meningkatnya efek samping dari obat-obat tertentu. Risiko kesehatan dari interaksi obat ini sangat bervariasi, bisa hanya sedikit menurunkan khasiat obat namun bisa pula fatal. Penghambatan penyerapan obat, misalnya, dapat terjadi jika Anda mengonsumsi suatu obat tertentu bersama-sama dengan norit.

Norit dapat dibeli bebas dan sering dipakai untuk mengurangi kembung dan diare. Norit ini bersifat menyerap racun dan zat-zat lainnya di lambung. Sifat inilah sebenarnya yang dipakai untuk mengurangi kembung dan diare. Namun, norit menyerap zat-zat di lambung hampir tak pilih bulu sehingga obat-obat yang Anda minum dalam waktu bersamaan atau dalam rentang waktu 3-5 jam sekitar waktu makan norit juga akan ikut diserap oleh norit. Akibatnya, penyerapan obat oleh tubuh justru berkurang sehingga efek atau khasiat obat yang Anda minum tersebut akan berkurang, dan mungkin efek pengobatan tidak akan tercapai.

Penurunan atau pengurangan penyerapan obat oleh tubuh juga dapat terjadi jika Anda mengkonsumsi suatu obat tertentu bersamaan dengan obat, makanan atau suplemen makanan yang banyak mengandung kalsium, magnesium, aluminium atau zat besi. Mineral-mineral ini banyak terdapat dalam berbagai macam suplemen vitamin dan juga dalam obat maag (antasida).

Kalsium, magnesium, aluminium dan zat besi dapat bereaksi dengan beberapa obat tertentu, misalnya antibiotika tetrasiklin dan turunan fluoroquinolon seperti ciprofloxacin, levofloxacin, ofloxacin, dan trovafloxacin, membentuk senyawa yang sukar diabsorpsi atau diserap oleh tubuh. Jika ini terjadi, maka tujuan pengobatan dengan antibiotika untuk membunuh kuman penyakit di dalam tubuh akan terganggu dan mungkin tidak tercapai. Satu penelitian mengungkapkan bahwa penurunan absorpsi antibiotika karena drug interaction dengan mineral-mineral tersebut dapat mencapai 50-75 persen.

Antibiotika Rifampicin dapat mengurangi efektivitas dari berbagai pil kontraseptif. Sehingga ibu-ibu yang menggunakan pil KB sebaiknya berhati-hati ketika mengonsumsi antibiotika. Bisa-bisa pil KB-nya tidak bekerja pada saat Ibu diterapi dengan rifampicin, sehingga program KB nya bisa gagal. Kombinasi rifampicin-pil KB ini juga dapat meningkatkan ririko terjadinya perdarahan.

Obat-obat antihistamin atau antialergi juga sangat potensil mengadakan interaksi obat. Antihistamin sering diberikan dalam obat flu atau obat batuk. Kombinasi antihistamin dengan obat-obat penenang atau obat-obat yang bekerja menekan sistem syaraf pusat seperti luminal dan diazepam harus dihindari, sebab kombinasi ini dapat mengadakan potensiasi, sehingga dapat terjadi efek penekanan sistem syaraf pusat secara berlebihan. Antihistamin juga harus sangat hati-hati diberikan pada pasien yang sedang mendapatkan terapi antihipertensi (tekanan darah tinggi).

–dari berbagai sumber

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s