MSG

Penambahan zat tambahan dalam makanan berdasarkan pertimbangan agar mutu dan kestabilan makanan tetap terjaga dan untuk mempertahankan nilai gizi yang mungkin rusak atau hilang selama proses pengolahan.

Pada awalnya zat-zat tambahan tersebut berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan yang selanjutnya disebut zat tambahan alami. Umumnya zat tambahan alami tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan kesehatan manusia. Akan tetapi, jumlah penduduk bumi yang makin bertambah menuntut jumlah makanan yang lebih besar sehingga zat tambahan alami tidak mencukupi lagi. Oleh karena itu, industri makanan memproduksi makanan yang memakai zat tambahan buatan (sintesis). Bahan baku pembuatannya adalah dari zat-zat kimia yang kemudian direaksikan. Zat tambahan sintesis yang berlebihan dapat menimbulkan beberapa efek samping misalnya: gatal-gatal, dan kanker.

Salah satu yang sering ditambahkan adalah bahan penguat rasa atau penyedap makanan. Bahan penguat rasa atau penyedap makanan yang paling banyak digunakan adalah MSG (Monosodium Glutamate) yang sehari-hari dikenal dengan nama Vetsin.

MSG atau Monosodium Glutame merupakan sekumpulan kristal putih kecil yang mampu menyedapkan rasa suatu makanan. Penggunaan kristal putih ini dipopulerkan pertama kali oleh masyarakat Negeri Sakura. Sejarah mencatatkan bahwa selama ratusan tahun, masyarakat disana hampir selalu menyuguhkan makanan lezat. Usut punya usut, ternyata kelezatan itu berasal dari pemakaian sejenis rumput laut bernama Laminaria Japonica (dalam sumber lain disebutkan ganggang laut kombu).

Pada perkembangannya, Professor Kikunae Ikeda, ilmuwan kimia dari Universitas Tokyo, berhasil menemukan rasa itu pada asam gultamat. Inovasi ini memunculkan satu rasa baru yaitu umami (lezat), melengkapi empat rasa sebelumnya: asam, manis, asin dan pahit. Jauh sebelumnya di Jerman sekitar tahun 1866, menurut sumber lain, Ritthausen sukses mengisolasi asam glutamat dan mengubahnya dalam bentuk Monosodium Glutamate (MSG) kendati belum tahu manfaatnya yang menyedapkan penganan.

Selepas penemuan ini, asam glutamat mulai diproduksi Jepang lewat ekstraksi dari bahan alami. Tak disangka, permintaan pasar pada produk ini terus meningkat. Demi memenuhi tuntutan tersebut, pada tahun 1956 setelah ditemukan cara produksi L-glutamic acid (fermentasi), asam glutamat pun diproduksi dengan cara tersebut. L-glutamic acid inilah inti dari MSG, yang berbentuk kristal putih kecil.

MSG dibahasakan juga sebagai mononatrium glutamat, merupakan garam dari asam glutamat, salah satu asam amino paling lazim yang ikut membentuk protein. Zatnya yang mampu menyedapkan rasa itu terselip di bagian glutamat pada molekulnya. Alhasil senyawa apapun dapat dipakai untuk membebaskan glutamat tersebut.

MSG sejatinya tidak memiliki rasa. Akan tetapi bila dibubuhkan ke dalam makanan, akan terbentuk asam glutamat bebas yang ditangkap oleh reseptor khusus di otak dan selanjutnya menghadirkan rasa dasar dalam makanan yang jauh lebih lezat dan gurih. Masyarakat Jepang menyebutnya Aji Nomoto, yang berarti ”Intisari Rasa” atau pusat cita rasa.

Kendati produksi MSG terus –menerus mengalami peningkatan, kehadiran MSG pada perkembanganya justru kian diwaspadai masyarakat. Masih ingat peristiwa di tahun 1968, ketika publik diramaikan oleh label CRS (Chinese Restaurant Syndrome yang kemudian disebut MSG Complex Syndrome) berupa gejala sakit kepala dan rasa terbakar di sekitar leher, lengan dan dada, diikuti kekakuan otot yang menyebar sampai ke punggung serta timbulnya mual dan jantung berdebar-debar setelah melahap makanan mengandung MSG.

Sampai saat ini meski tidak seekstrem tahun 1968, masyarakat masih melihat MSG sebagai bahan makanan yang sarat sumber penyakit. Paling sering terdengar adalah anggapan MSG sebagai penyebab kanker. Walau belum bisa dibuktikan, namun hampir setiap penderita kanker dilarang mengonsumsi MSG karena kristal putih ini akan memicu pertumbuhan sel-sel kanker.

Selama ini penelitian mengenai MSG lebih banyak dipraktikkan pada hewan. Jurnal Neurochemistry International bulan Maret 2003 sebagaimana ditulis Tonang Dwi Ardyanto dari Laboratiorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret dalam sebuah situs, melaporkan pemberian MSG sebanyak 4mg/g berat badan ke bayi tikus menimbulkan neurodegenerasi berupa jumlah neuron lebih sedikit dan rami dendrit lebih renggang. Kerusakan ini terjadi perlahan sejak umur 21 hari dan memuncak pada 60 hari. Sementara bila MSG disuntikkan ke tikus dewasa, akan mengakibatkan gangguan pada neuron dan daya ingat.

Masih seputar hasil penelitian terhadap tikus (dari sumber yang sama), bahwa menurut Jurnal Brain Research, pemberian MSG 4mg/g terhadap tikus hamil pada hari ke-17- 21, melahirkan anak-anak tikus yang rentan kejang, lemah dalam ketrampilan hidup dan lebih gemuk . Hasil penelitian ini kemudian diuji cobakan pada manusia dan hasilnya sangat variatif. Sebagian menunjukkan efek negatif MSG sebagaimana pada hewan, tapi sebagian lainnya tidak terbukti.

Inilah kemudian yang membuat FDA yakin bahwa MSG merupakan bahan makanan aman selagi dikonsumsi dengan wajar. Namun karena kebanyakan orang tidak memiliki kondisi tubuh yang sama, formula FDA tersebut idak dapat diterapkan pada setiap tubuh.

Nyatanya, penderita asma mengeluhkan serangan yang terjadi setelah memakan MSG. Juga hadirnya migren pada penikmat MSG di kalangan anak-anak dan remaja seperti Laporan Jurnal Pediatric Neurology. Tak ketinggalan pula timbulnya MSG Complex Syndrome pada diri seseorang yang sudah merasa dirinya sensitif usai mengonsumsi MSG walau dalam kadar yang tidak banyak.

Sejatinya, glutamat terdapat dalam hampir semua bahan makanan. Sebut saja keju, susu, daging, jagung, jamur, anggur, tomat, kentang, ayam, ikan, telur, kecap, saus dan lain sebagainya. Karena itu penambahan MSG menjadi penting untuk deperhatikan sebagai upaya menatati syara’ dalam menjaga sisi thayyib suatu makanan.

Menurut Tonang, rata-rata dalam sehari penambahan MSG dibatasi sebanyak 2,5g – 3,5g (berat badan 50-70kg) dan dilarang menggunakan dosis tinggi sekaligus. Pasalnya, seringkali konsumen tidak menyadari pemakaian dosis MSG, main tambah satu sendok teh dan seterusnya. Padalah satu sendok teh itu rata-rata berisi 4-6 gr MSG.

Di samping kadar, lagi-lagi ingredient dalam pembuatan MSG juga perlu diwaspadai. Ingat kasus Ajinomoto pada tahun 2000 yang diharam kan MUI karena menggunakan bacto soytone dalam proses produksinya. Dikatakan dalam fatwa tentang produk penyedap rasa (monosodium glutamate) dari PT. Ajinomoto Indonesia, bahwa telah terjadi pertemuan persenyawaan medium agar-agar, babi dalam satu tempat/wadah, dan sama-sama basah, demi mengembangbiakkan bakteri yang digunakan pada proses selanjutnya.

2 Comments

  1. alow,thx bnget ya,
    pnting buat tgs kosmetik

  2. kq isinya ttg oBat2an sc,aQ kan G mudeng….:p:P
    tRnyata km manis jg y…:D:D/
    tHanks y udh ksh sUpport aQ,doain aJ mg2 aQ cpt dPt keRjaan. Amien


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s