met tahun baru ya temen2

met tahun baru ya temen2, 
hiks seneng bgt bwt kalian yang bisa ngerayainnya, 
tapi nggak bwtku, karena tahun baru gak da yang spesial tetap aja seperti hari2 biasanya. 
lo semua ngerayain, ku hanya bisa duduk didepan pc bwt ngenet hiks :( 
ehm tapi, ku punya banyak harapan dan doa bwt diriku sendiri.. 
n tak lupa juga harapan buat kalian,
 " i wish u to be great, succesful, more n more.. best wishes for u... " 
secuil harapanku kalian juga mendoakan aku dengan hal yang sama (^o^)v 

kegunaan antibiotik

Apa itu AB?
AB ditemukan oleh Alexander Flemming pada tahun 1929 dan digunakan untuk
membunuh bakteri secara langsung atau melemahkan bakteri sehingga kemudian
dapat dibunuh dengan sistem kekebalan tubuh kita. AB ada yang merupakan
1. produk alami,
2. semi sintetik, berasal dari alam dibuat dengan beberapa perubahan agar
lebih kuat, mengurangi efek samping atau untuk memperluas jenis bakteri yang
dapat dibunuh,
3. full sintetik.

Menurut penelitian, ada 3 kondisi yang umumnya diterapi dengan AB, yaitu
1. Demam, 2.
Radang tenggorokan,
3. Diare.

Padahal, sebenarnya, penggunaan AB untuk kondisi diatas tidaklah tepat dan
tidak berguna karena itu bi9sa disebabkan oleh virus dan bukan oleh bakteri. Dibawah ini 
petunjuk kapan AB tidak bekerja:
1. Colds & Flu
2. Batuk atau bronchitis
3. Radang tenggorokan
4. Infeksi telinga. Tidak semua infeksi telinga membutuhkan AB.
5. Sinusitis. Pada umumnya tidak membutuhkan AB.

Penggunaan AB tidak pada tempatnya dan berlebihan tidak akan menguntungkan,
bahkan merugikan dan membahayakan.

Dibawah merupakan beberapa jenis infeksi bakteri yang umumnya terjadi dan
membutuhkan terapi AB:
1. Infeksi saluran kemih
2. Sebagian infeksi  telinga tengah atau biasa disebut otitis media
3. Sinusitis yang berat (berlangsung lebih dari minggu, sakit kepala,
pembengkakan di daerah wajah)
4. Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus (umumnya menyerang
anak berusia 7 tahun atau lebih sedangkan pada anak usia 4 tahun hanya 15%
yang mengalami r adang tenggorokan karena kuman ini)

Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur
yang membutuhkan beberapa hari  untuk observasi. Contohnya apabila dicurigai
adanya infeksi saluran kemih, lab. mengambil sample urin dan kemudian
dikultur, setelah beberapa hari akan ketahuan bila ada infeksi bakteri berikut
jenisnya.

Efek Negatif AB
Dibawah adalah efek samping yang dialami pemakai apabila mengkonsumsi AB;
1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah, mulas) merupakan efek samping
yang paling sering terjadi.
2. Reaksi alergi. Mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan
yang berat seperti pembengkakan bibir/kelopak mata, gangguan nafas, dll.
3. Demam (drug fever). AB yang dapat menimbulkan demam bactrim, septrim,
sefalsporoin & eritromisin.
4. Gangguan darah. Beberapa AB dapat mengganggu sumsum tulang, salah satunya
kloramfenikol.
5. Kelainan hati. AB yang paling sering menimbulkan efek ini adalah obat TB
seperti INH, rifampisin dan PZA (pirazinamid).
6. Gangguan fungsi ginjal. Golongan AB yang bisa menimbulkan efek ini adalah
aminoglycoside (garamycine, gentamycin intravena), Imipenem/Meropenem dan
golongan Ciprofloxacin. Bagi penderita penyakit ginjal, harus hati2
mengkonsumsi AB.
Note: Semakin sering mengkonsumsi AB, semakin sering kita sakit.
 tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik.
 Antibiotik hanya digunakan untuk infeksi," ujar Prof Dr Kuntaman SpMK,
 ahli mikrobiologi RSU oleh karenanya jangan menggunakan antibiotik bila tak perlu.

Jenis Antibiotik

Meskipun ada lebih dari 100 macam antibiotik, namun umumnya mereka berasal dari beberapa jenis antibiotik saja, sehingga mudah untuk dikelompokkan. Ada banyak cara untuk menggolongkan antibiotik, salah satunya berdasarkan struktur kimianya. Berdasarkan struktur kimianya, antibiotik dikelompokkan sebagai berikut:

a. Golongan Aminoglikosida
Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin, paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.

b. Golongan Beta-Laktam
Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin).

c. Golongan Glikopeptida
Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.

d. Golongan Poliketida
Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin).

e. Golongan Polimiksin
Diantaranya polimiksin dan kolistin.

f. Golongan Kinolon (fluorokinolon)
Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin.

g. Golongan Streptogramin
Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-dalfopristin.

h. Golongan Oksazolidinon
Diantaranya linezolid dan AZD2563.

i. Golongan Sulfonamida
Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim.

j. Antibiotika lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat.

Berdasarkan mekanisme aksinya, yaitu mekanisme bagaimana antibiotik secara selektif meracuni sel bakteri, antibiotik dikelompokkan sebagai berikut:

1. Mengganggu sintesa dinding sel, seperti penisilin, sefalosporin, imipenem, vankomisin, basitrasin.
2. Mengganggu sintesa protein bakteri, seperti klindamisin, linkomisin, kloramfenikol, makrolida, tetrasiklin, gentamisin.
3. Menghambat sintesa folat, seperti sulfonamida dan trimetoprim.
4. Mengganggu sintesa DNA, seperti metronidasol, kinolon, novobiosin.
5. Mengganggu sintesa RNA, seperti rifampisin.
6. Mengganggu fungsi membran sel, seperti polimiksin B, gramisidin

Antibiotik dapat pula digolongkan berdasarkan organisme yang dilawan dan jenis infeksi. Berdasarkan keefektifannya dalam melawan jenis bakteri, dapat dibedakan antibiotik yang membidik bakteri gram positif atau gram negatif saja, dan antibiotik yang berspektrum luas, yaitu yang dapat membidik bakteri gram positif dan negatif.

Sebagian besar antibiotik mempunyai dua nama, nama dagang yang diciptakan oleh pabrik obat, dan nama generik yang berdasarkan struktur kimia antibiotik atau golongan kimianya. Contoh nama dagang dari amoksilin, sefaleksin, siprofloksasin, kotrimoksazol, tetrasiklin dan doksisiklin, berturut-turut adalah Amoxan, Keflex, Cipro, Bactrim, Sumycin, dan Vibramycin.



		
	

obat

Obat dan Peran Obat dalam Pelayanan Kesehatan
a.  Pengertian Obat
Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah
sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi
atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka
penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi.
Menurut Ansel (1985), obat adalah zat yang digunakan untuk
diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit
pada manusia atau hewan.
Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi
proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas
cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya
yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis,
dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa penggunaan
obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. (Bagian Farmakologi,
Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia)
Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi
(Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005).
Obat merupakan benda yang dapat digunakan untuk merawat
penyakit, membebaskan gejala, atau  memodifikasi proses kimia dalam
tubuh.
Obat merupakan senyawa kimia selain makanan yang bisa
mempengaruhi organisme hidup,  yang pemanfaatannya bisa untuk
mendiagnosis, menyembuhkan, mencegah suatu penyakit.
b.  Bahan Obat / Bahan Baku
Semua bahan, baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat, yang
berubah maupun yang tidak berubah, yang digunakan dalam pengolahan
2http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
obat walaupun tidak semua bahan tersebut masih terdapat di dalam produk
ruahan. Produk ruahan merupakan tiap bahan yang telah selesai diolah dan
tinggal memerlukan pengemasan untuk menjadi oabt jadi.
c.  Obat Tradisional
Merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan
hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan
tersebut yang secara turun menurun telah digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman.
d.  Penggolongan Obat
Obat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:
1)  Obat Bebas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna
hijau dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat bebas umumnya
berupa suplemen vitamin dan mineral, obat gosok, beberapa analgetik-
antipiretik, dan beberapa antasida. Obat golongan ini dapat dibeli
bebas di Apotek, toko obat, toko kelontong, warung.
2)  Obat Bebas Terbatas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran
berwarna biru dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat-obat yang
umunya masuk ke dalam golongan ini antara lain  obat batuk, obat
influenza, obat penghilang rasa sakit dan penurun panas pada saat
demam (analgetik-antipiretik),  beberapa suplemen vitamin dan
mineral, dan obat-obat antiseptika, obat tetes mata untuk iritasi ringan.
Obat golongan ini hanya dapat dibeli di Apotek dan toko obat berizin.
3)  Obat Keras, merupakan obat yang pada kemasannya ditandai dengan
lingkaran yang didalamnya terdapat huruf K berwarna merah yang
menyentuh tepi lingkaran yang  berwarna hitam. Obat keras
merupakan obat yang hanya bisa  didapatkan dengan resep dokter.
Obat-obat yang umumnya masuk ke dalam golongan ini antara lain
obat jantung, obat darah tinggi/hipertensi, obat darah
rendah/antihipotensi, obat diabetes, hormon, antibiotika, dan beberapa
obat ulkus lambung. Obat golongan  ini hanya dapat diperoleh di
Apotek dengan resep dokter.
3http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
4)  Obat Narkotika, merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman
atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan (UURI No. 22 Th 1997 tentang
Narkotika). Obat ini pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang
didalamnya terdapat palang (+) berwarna merah.
Obat Narkotika bersifat adiksi dan penggunaannya diawasi dengan
ketet, sehingga obat golongan narkotika hanya diperoleh di Apotek
dengan resep dokter asli (tidak dapat menggunakan kopi resep).
Contoh dari obat narkotika antara lain: opium, coca, ganja/marijuana,
morfin, heroin, dan lain sebagainya. Dalam bidang kesehatan, obat-
obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan
analgetik/obat penghilang rasa sakit.
e.  Peran Obat
Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan dalam
pelayanan kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan,
karena selain merupakan komoditas perdagangan, obat juga memiliki
fungsi sosial. Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan
karena penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat
dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Seperti
yang telah dituliskan pada pengertian obat diatas, maka peran obat secara
umum adalah sebagai berikut:
1)  Penetapan diagnosa
2)  Untuk pencegahan penyakit
3)  Menyembuhkan penyakit
4)  Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan
5)  Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu
6)  Peningkatan kesehatan
7)  Mengurangi rasa sakit

Antibiotika

Antibiotik adalah zat yang dihasilakn oleh mikroba, terutama fungi, yang

dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain.

Sedangkan antimikroba yaitu obat yang membasmi mikroba khusunya

mikroba yang merugikan manusia. Penggunaan antibiotik didasarkan pada:

a. Penyebab infeksi

Proses pemberian antibiotic yang paling baik adalah dengan

melakukan pemeriksaan mikrobiologis dan uji kepekaan kuman. Namun

pada kenyataannya, proses tersebut tidak dapat berjalan karena tidak

mungkin melakukan pemeriksaan kepada setiap pasien yang datang

karena infeksi, dank arena infeksi yang berat perlu penanganan segera

maka pengambilan sample bahan biologic untuk pengembangbiakan dan

pemeriksaan kepekaan kuman dapat dilakukan setelah dilakukannya

pengobatan terhadap pasien yang bersangkutan.

b. Faktor pasien

Faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotic

adalah fungsi organ tubuh pasien yaitu fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat

alergi, daya tahan terhadap infeksi (status imunologis), daya tahan

terhadap obat, beratnya infeksi, usia, untuk wanita apakah sedang hamil

atau menyusui dan lain-lain.

Fungsi Antibiotika

Antibiotika digunakan untuk mengobati berbagai infeksi akibat kuman

atau juga untuk prevensi infeksi, misalnya pada pembedahan besar. Secara

provilaktis juga diberikan kepada pasien dengan sendi dan klep jantung

buatan, juga sebelum cabut gigi.

Mekanisme kerja yang terpenting pada antibiotika adalah perintangan

sintesa protein, sehingga kuman musnah atau tidak berkembang lagi tanpa

merusak jaringan tuan rumah. Selain itu, beberapa antibiotika bekerja

terhadap dinding sel dan membran sel. Namun antibiotika dapat

digunakan sebagai non-terapeutis, yaitu sebagai stimulans pertumbuhan

pada binatang ternak.

• Penggunaan Antibiotik untuk Profilaksis

Profilaksis antibiotik diperlukan dalam keadaan sebagai berikut:

a. Untuk melindungi seseorang yang terpajan kuman tertentu.

b. Mencegah endokarditis pada pasien yang mengalami kelainan katup

jantung atau defek septum yang akan menjalani prosedur dengan resiko

bakteremia, misalnya ekstraksi gigi, pembedahan dan lain-lain.

c. Untuk kasus bedah, profilaksis diberikan untuk tindakan bedah tertentu

yang sering disertai infeksi pasca bedah atau yang berakibat berat bila

terjadi infeksi pasca bedah.

• Antibiotik Kombinasi

Antibiotik kombinasi diberikan untuk 4 indikasi utama:

a. Pengobatan infeksi campuran, misalnya pasca bedah abdomen.

b. Pengobatan awal pada infeksi berat yang etiologinya belum jelas,

misalnya sepsis, meningitis purulenta.

c. Mendapatkan efek sinergi.

d. Memperlambat timbulnya resistensi, misalnya pada pengobatan

tuberkulosis.

interaksi obat

Apakah Itu Interaksi Obat?

Jumlah obat resep dalam tubuh kita harus cukup tinggi untuk membantu menyerang penyakit yang bersangkutan, tetapi cukup rendah agar menghindari munculnya terlalu banyak efek samping. Obat lain, baik non-resep atau narkoba, jamu, atau bahkan makanan kadang kala mengakibatkan perubahan besar pada jumlah suatu obat dalam aliran darah kita. Overdosis (dosis terlalu tinggi) dapat mengakibatkan efek samping yang parah. Dosis terlalu rendah dapat berarti obat tersebut tidak berhasil.

Bagaimana Tubuh Kita Mengelola Obat-obatan?

Tubuh kita mengenal obat sebagai ‘bahan asing.’ Jadi obat diuraikan oleh tubuh, biasanya sebagai air seni atau kotoran (air besar). Banyak obat dikeluarkan tanpa masalah oleh ginjal, dan keluar dari tubuh dalam air seni. Obat lain harus diuraiakan oleh hati kita. Bahan kimia (yang disebut enzim) di hati mengubah molekul obat. Hasil dari proses ini dikeluarkan juga dalam air seni atau air besar. Waktu kita memakai pil, obat jalan dari perut ke usus. Dari usus, obat diarahakan ke hati sebelum mengalir ke bagian tubuh yang lain. Jika obat mudah diuraiakan oleh hati, hanya sedikit obat sampai ke tubuh lain.

Bagaimana Obat-obatan Berinteraksi?

Ada obat yang memperlambat proses ginjal. Ini meningkatkan kadar bahan kimia yang biasanya dikeluarkan oleh ginjal dalam darah. Interaksi obat yang paling umum melibatkan hati. Beberapa obat dapat memperlambat atau mempercepat proses enzim hati. Ini dapat mengakibatkan perubahan besar pada kadar obat lain dalam aliran darah, jika obat tersebut diuraikan oleh enzim yang sama.

Mengapa Ada Masalah dengan Makanan?

Pil apa pun yang kita pakai melalui perut kita. Sebagaian besar obat diserat lebih cepat jika perutnya kosong. Untuk beberapa obat, ini masalah yang baik, tetapi ini juga dapat mengakibatkan lebih banyak efek samping. Beberapa obat harus dipakai dengan makanan agar mereka diuraikan lebih lambat atau untuk mengurangi efek samping. Obat lain harus dipakai dengan makanan berlemak karena obat tersebut melarut dalam lemak, dan jika begitu diserap lebih baik.

Pada prinsipnya interaksi obat dapat menyebabkan dua hal penting. Yang pertama, interaksi obat dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan khasiat obat, baik melalui penghambatan penyerapannya atau dengan mengganggu metabolisme atau distribusi obat tersebut di dalam tubuh. Yang kedua, interaksi obat dapat menyebabkan gangguan atau masalah kesehatan yang serius, karena meningkatnya efek samping dari obat-obat tertentu. Risiko kesehatan dari interaksi obat ini sangat bervariasi, bisa hanya sedikit menurunkan khasiat obat namun bisa pula fatal. Penghambatan penyerapan obat, misalnya, dapat terjadi jika Anda mengonsumsi suatu obat tertentu bersama-sama dengan norit.

Norit dapat dibeli bebas dan sering dipakai untuk mengurangi kembung dan diare. Norit ini bersifat menyerap racun dan zat-zat lainnya di lambung. Sifat inilah sebenarnya yang dipakai untuk mengurangi kembung dan diare. Namun, norit menyerap zat-zat di lambung hampir tak pilih bulu sehingga obat-obat yang Anda minum dalam waktu bersamaan atau dalam rentang waktu 3-5 jam sekitar waktu makan norit juga akan ikut diserap oleh norit. Akibatnya, penyerapan obat oleh tubuh justru berkurang sehingga efek atau khasiat obat yang Anda minum tersebut akan berkurang, dan mungkin efek pengobatan tidak akan tercapai.

Penurunan atau pengurangan penyerapan obat oleh tubuh juga dapat terjadi jika Anda mengkonsumsi suatu obat tertentu bersamaan dengan obat, makanan atau suplemen makanan yang banyak mengandung kalsium, magnesium, aluminium atau zat besi. Mineral-mineral ini banyak terdapat dalam berbagai macam suplemen vitamin dan juga dalam obat maag (antasida).

Kalsium, magnesium, aluminium dan zat besi dapat bereaksi dengan beberapa obat tertentu, misalnya antibiotika tetrasiklin dan turunan fluoroquinolon seperti ciprofloxacin, levofloxacin, ofloxacin, dan trovafloxacin, membentuk senyawa yang sukar diabsorpsi atau diserap oleh tubuh. Jika ini terjadi, maka tujuan pengobatan dengan antibiotika untuk membunuh kuman penyakit di dalam tubuh akan terganggu dan mungkin tidak tercapai. Satu penelitian mengungkapkan bahwa penurunan absorpsi antibiotika karena drug interaction dengan mineral-mineral tersebut dapat mencapai 50-75 persen.

Antibiotika Rifampicin dapat mengurangi efektivitas dari berbagai pil kontraseptif. Sehingga ibu-ibu yang menggunakan pil KB sebaiknya berhati-hati ketika mengonsumsi antibiotika. Bisa-bisa pil KB-nya tidak bekerja pada saat Ibu diterapi dengan rifampicin, sehingga program KB nya bisa gagal. Kombinasi rifampicin-pil KB ini juga dapat meningkatkan ririko terjadinya perdarahan.

Obat-obat antihistamin atau antialergi juga sangat potensil mengadakan interaksi obat. Antihistamin sering diberikan dalam obat flu atau obat batuk. Kombinasi antihistamin dengan obat-obat penenang atau obat-obat yang bekerja menekan sistem syaraf pusat seperti luminal dan diazepam harus dihindari, sebab kombinasi ini dapat mengadakan potensiasi, sehingga dapat terjadi efek penekanan sistem syaraf pusat secara berlebihan. Antihistamin juga harus sangat hati-hati diberikan pada pasien yang sedang mendapatkan terapi antihipertensi (tekanan darah tinggi).

–dari berbagai sumber

DIARE

Diare adalah buang air besar dalam bentuk cairan  lebih dari tiga kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih. Orang  yang mengalami  diare  akan  kehilangan  cairan  tubuh  sehingga menyebabkan  dehidrasi  tubuh.  Hal  ini  membuat  tubuh  tidak  dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua. Dikenal diare akut yang timbul

dengan tiba-tiba dan berlangsungbeberapa hari dan diare kronis yang berlangsung lebih dari tiga minggu bervariasi dari hari ke hari yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya (Anonim 1985; Winardi 1981).

Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dehidrasi. Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang bergizi buruk, karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonim, 1985). Dehidrasi lebih mudah terjadi pada bayi dan balita serta pada penderita demam. Derajat dehidrasi diukur menurut persentase terjadinya penurunan berat badan selama diare. Bila berat badan turun kurang dari 5% termasuk dehidrasi ringan, berat badan turun 5%-10% termasuk dehidrasi sedang dan bila berat badan turun lebih dari 10% termasuk dehidrasi berat (Anonim 1985; 1990).

PENYEBAB DIARE
1.   Infeksi  dari  berbagai  bakteri  yang  disebabkan  oleh  kontaminasi
makanan maupun air minum;
2.   Infeksi berbagai macam virus;
3.  Alergi  makanan,  khususnya  susu  atau  laktosa  (makanan  yang
mengandung susu);
4.   Parasit yang masuk ke  tubuh melalui makanan atau minuman yang
kotor.
PENCEGAHAN DIARE
Diare mudah dicegah antara lain dengan cara:
1.   Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting:
1) sebelum makan, 2) setelah buang air besar, 3) sebelum memegang
bayi,  4)  setelah  menceboki  anak  dan  5)  sebelum  menyiapkan
makanan;
2.   Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain
dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses
klorinasi;
3.   Pengelolaan  sampah  yang  baik  supaya  makanan  tidak  tercemar
serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);
4.   Membuang  air  besar  dan  air  kecil  pada  tempatnya,  sebaiknya
menggunakan jamban dengan tangki septik.
PENYEMBUHAN DIARE
1.   Minum dan makan secara normal untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang; Cairan rehidrasi oral yang dipakai oleh masyarakat adalah air kelapa, air tajin, air susu ibu, air the encer, sup wortel, air perasan buah dan larutan gula garam (LGG). Pemakaian cairan ini lebih dititik beratkan pada pencegahan timbulnya dehidrasi. Sedangkan bila terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaik nya diberi minuman Oralit. Oralit yang menurut WHO mempunyai komposisi campuran Natrium Klorida, Kalium Klorida, Glukosa dan Natrium Bikarbonat atau Natrium Sitrat sekarang dijual dengan berbagai merek dagang seperti Cymatrolit, Eltolit, Ottolyte, Kritallyte dan Aqualite mengandung komposis yang sama (Bromilow 1993; Patra1992).

-2.   Untuk bayi dan balita, teruskan
minum ASI (Air Susu Ibu);
3.   Garam Oralit.

HPLC

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC)

HPLC adalah alat yang sangat bermanfaat dalam analisis. Bagian ini menjelaskan bagaimana pelaksanaan dan penggunaan serta prinsip HPLC yang sama dengan kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom.

Pelaksanaan HPLC

Pengantar

HPLC secara mendasar merupakan perkembangan tingkat tinggi dari kromatografi kolom. Selain dari pelarut yang menetes melalui kolom dibawah grafitasi, didukung melalui tekanan tinggi sampai dengan 400 atm. Ini membuatnya lebih cepat.

HPLC memperbolehkan penggunaan partikel yang berukuran sangat kecil untuk material terpadatkan dalam kolom yang mana akan memberi luas permukaan yang lebih besar berinteraksi antara fase diam dan molekul-molekul yang melintasinya. Hal ini memungkinkan pemisahan yang lebih baik dari komponen-komponen dalam campuran.

Perkembangan yang lebih luas melalui kromatografi kolom mempertimbangkan metode pendeteksian yang dapat digunakan. Metode-metode ini sangat otomatis dan sangat peka.Kolom dan pelarut

Membingungkan, ada dua perbedaan dalam HPLC, yang mana tergantung pada polaritas relatif dari pelarut dan fase diam.

Fase normal HPLC

Ini secara esensial sama dengan apa yang sudah anda baca tentang kromatografi lapis tipis atau kromatografi kolom. Meskipun disebut sebagai “normal”, ini bukan merupakan bentuk yang biasa dari HPLC.
Kolom diisi dengan partikel silika yang sangat kecil dan pelarut non polar misalnya heksan. Sebuah kolom sederhana memiliki diameter internal 4.6 mm (dan mungkin kurang dari nilai ini) dengan panjang 150 sampai 250 mm.

Senyawa-senyawa polar dalam campuran melalui kolom akan melekat lebih lama pada silika yang polar dibanding degan senyawa-senyawa non polar. Oleh karena itu, senyawa yang non polar kemudian akan lebih cepat melewati kolom.

Fase balik HPLC

Dalam kasus ini, ukuran kolom sama, tetapi silika dimodifikasi menjadi non polar melalui pelekatan rantai-rantai hidrokarbon panjang pada permukaannya secara sederhana baik berupa atom karbon 8 atau 18. Sebagai contoh, pelarut polar digunakan berupa campuran air dan alkohol seperti metanol.

Dalam kasus ini, akan terdapat atraksi yang kuat antara pelarut polar dan molekul polar dalam campuran yang melalui kolom. Atraksi yang terjadi tidak akan sekuat atraksi antara rantai-rantai hidrokarbon yang berlekatan pada silika (fase diam) dan molekul-molekul polar dalam larutan. Oleh karena itu, molekul-molekul polar dalam campuran akan menghabiskan waktunya untuk bergerak bersama dengan pelarut.

Senyawa-senyawa non polar dalam campuran akan cenderung membentuk atraksi dengan gugus hidrokarbon karena adanya dispersi gaya van der Waals. Senyawa-senyawa ini juga akan kurang larut dalam pelarut karena membutuhkan pemutusan ikatan hydrogen sebagaimana halnya senyawa-senyawa tersebut berada dalam molekul-molekul air atau metanol misalnya. Oleh karenanya, senyawa-senyawa ini akan menghabiskan waktu dalam larutan dan akan bergerak lambat dalam kolom.

Ini berarti bahwa molekul-molekul polar akan bergerak lebih cepat melalui kolom.

Fase balik HPLC adalah bentuk yang biasa digunakan dalam HPLC.

Melihat seluruh proses

Diagram alir HPLC

Injeksi sampel

Injeksi sample seluruhnya otomatis dan anda tidak akan mengharapkan bagaimana mengetahui apa yang terjadi pada tingkat dasar. Karena proses ini meliputi tekanan, tidak sama halnya dengan kromatografi gas (jika anda telah mempelajarinya).

Waktu retensi

Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu.
Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk beberapa senyawa, waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada:

  • tekanan yang digunakan (karena itu akan berpengaruh pada laju alir dari pelarut)
  • kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat dari material apa, tetapi juga pada ukuran partikel)
  • komposisi yang tepat dari pelarut
  • temperatur pada kolom

Itu berarti bahwa kondisi harus dikontrol secara hati-hati, jika anda menggunakan waktu retensi sebagai sarana untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa.

Detektor
Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom. Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultra-violet.

Banyak senyawa-senyawa organik menyerap sinar UV dari beberapa panjang gelombang. Jika anda menyinarkan sinar UV pada larutan yang keluar melalui kolom dan sebuah detektor pada sisi yang berlawanan, anda akan mendapatkan pembacaan langsung berapa besar sinar yang diserap.

Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu. Anda akan heran mengapa pelarut yang digunakan tidak mengabsorbsi sinar UV. Pelarut menyerapnya! Tetapi berbeda, senyawa-senyawa akan menyerap dengan sangat kuat bagian-bagian yang berbeda dari specktrum UV.

Misalnya, metanol, menyerap pada panjang gelombang dibawah 205 nm dan air pada gelombang dibawah 190 nm. Jika anda menggunakan campuran metanol-air sebagai pelarut, anda sebaiknya menggunakan panjang gelombang yang lebih besar dari 205 nm untuk mencegah pembacaan yang salah dari pelarut.

Interpretasi output dari detektor

Output akan direkam sebagai rangkaian puncak-puncak, dimana masing-masing puncak mewakili satu senyawa dalam campuran yang melalui detektor dan menerap sinar UV. Sepanjang anda mengontrol kondisi kolom, anda dapat menggunakan waktu retensi untuk membantu mengidentifikasi senyawa yang diperoleh, tentunya, anda (atau orang lain) sudah mengukur senyawa-senyawa murninya dari berbagai senyawa pada kondisi yang sama.

Anda juga dapat menggunakan puncak sebagai jalan untuk mengukur kuanti?tas dari senyawa yang dihasilkan. Mari beranggapan bahwa tertarik dalam senyawa tertentu, X.

Jika anda menginjeksi suatu larutan yang mengandung senyawa murni X yang telah diketahui jumlahnya pada instrumen, anda tidak hanya dapat merekam waktu retensi dari senyawa tersebut, tetapi anda juga dapat menghubungkan jumlah dari senyawa X dengan puncak dari senyawa yang dihasilkan.

Area yang berada dibawah puncak sebanding dengan jumlah X yang melalui detektor, dan area ini dapat dihitung secara otomatis melalui layar komputer. Area dihitung sebagai bagian yang berwarna hijau dalam gambar (sangat sederhana).

Jika larutan X kurang pekat, area dibawah puncak akan berkurang meskipun waktu retensi akan sama. Misalnya,

Ini berarti dimungkinkan mengkalibrasi instrumen sehingga dapat digunakan untuk mengetahu berapa jumlah substansi yang dihasilkan meskipun dalam jumlah kecil.

Meskipun demikian, harus berhati-hati. Jika anda mempunyai dua substansi yang berbeda dalam sebuah campuran (X dan Y), dapatkah anda mengatakan jumlah relatifnya? Anda tidak dapat mengatakannya jika anda menggunakan serapan UV sebagai metode pendeteksinya.

Dalam gambar, area di bawah puncak Y lebih kecil dibanding dengan area dibawah puncak X. Ini mungkin disebabkan oleh karena Y lebih sedikit dari X, tetapi dapat sama karena Y mengabsorbsi sinar UV pada panjang gelombang lebih sedikit dibanding dengan X. Ini mungkin ada jumlah besar Y yang tampak, tetapi jika diserap lemah, ini akan hanya memberikan puncak yang kecil.

Rangkaian HPLC pada spektrometer massa

Ini menunjukkan hal yang sangat menakjubkan! Pada saat detektor menunjukkan puncak, beberapa senyawa sementara melewati detektor dan pada waktu yang sama dapat dialihkan pada spektrometer massa. Pengalihan ini akan memberikan pola fragmentasi yang dapat dibandingkan pada data komputer dari senyawa yang polanya telah diketahui. Ini berarti bahwa identifikasi senyawa dalam jumlah besar dapat ditemukan tanpa harus mengetahui waktu retensinya.

http://www.chem-is-try.org

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.